Selasa, 16 Juli 2013
di
00.26
|
Update blog today
Bumi Indonesia sumringah, bagaimana tidak. Pada tournya ke Asia Arsenal membawa punggawa-punggawa utamanya untuk berlaga di Stadion Utama GBK. Indonesia tak mau kalah, untuk meladeni lawatan meriam london ini Indonesia menyiapkan squad utama yang dinamakan Indonesia dream team.
Hari yang ditunggupun datang, SU Gelora Bung Karno penuh sesak oleh gooners yang memadati setiap sektor dari stadion kebanggaan Indonesia ini. Sesaat malam itu terasa Emirates Stadium pindah ke Jakarta dimana disetiap sisi lengkap dengan atribut Gooners.
Pertandingan pun dimulai dimana penonton sangat antusias menunggu tim kesayangannya tampil. Entah mana kesebelasan yang mereka sayang, Indonesia atau Arsenal?
Sembilan puluh menitpun berlalu, Arsenal benar-benar mendikte Indonesia Dream Team. Ball possesion dikuasai Arsenal. Tim meriam london ini juga bermain sangat lepas tanpa beban , menguasai seluruh lapangan, dilain pihak Indonesia Dream Team tertunduk lesu, terlihat asa mulai memudar dari tatapan mata pemain Indonesia. Bagaimana tidak? Kurnia Meiga harus memungut TUJUH kali bola dari gawangnya selama 90 menit itu. Sedangkan gawang Arsenal clean sheet masih perawan.
Tujuh kali kick off untuk Indonesia karena kebobolan, seakan semua malam itu para pemain Indonesia Dream Team lemas tak berdaya disetiap sendinya. Malam itu seharusnya Indonesia mengambil pelajaran, sesungguhnya malam itu Arsenal memberikan "contekan" untuk kita.
Selama 90 menit Indonesia bermain sangat monoton, setiap kali dapat bola umpan-umpan tidak akurat, terlebih sering mengangkat bola yang tidak jelas. Jika dipelajari malam itu Arsenal benar-benar mengajari kita. Ibarat guru yang mendikte muridnya. Dari segi postur pemain Arsenal memang tidak terlalu se "Bongsor" pemain Inggris pada umumnya. Namun bagaimana mereka bisa survive di Liga Premier ?
Malam itu juga mereka juga membawa jawabannya. Gaya bermain adalah kunci utama. Mereka bermain passing-passing bola bawah yang sangat rapi. Bahkan untuk mengangkat bola pun bisa dihitung dengan jari. Pergerakan tiap pemain untuk membantu rekannya juga sangat vital. Disamping mereka memang memiliki pemain berskill mumpuni seperti Podolski didepan.
Sedangkan dilain sisi Indonesia, mendapat bola pun sangat jarang karena dikte yang dipraktekan Arsenal berjalan lancar. Sekalinya mendapat bola , saat melakukan passing terpotong dengan mudah, atau justru mengangkat bola yang mana postur pemain Indonesia yang masih terselisih dengan postur pemain belakang Arsenal. Komunikasi antar pemain juga tidak berjalan semestinya. Dan kadang-kadang justru mempraktekkan kick and rush ala Premier League yang jelas menguras stamina. Padahal kita tau sendiri bagaimana stamina pemain kita pada menit-menit akhir. Jangankan menit akhir, menit 60 keatas saja sudah habis-habisan.
Seharusnya kita mempelajari apa yang diajarkan Arsenal. Mereka bermain bola rendah, menguasai possesion, bermain tenang dan tidak terburu-buru. Jika ditelaah lagi, gaya bermain seperti ini sangat cocok untuk Indonesia, dimana tidak mengharuskan memiliki postur yang tinggi dan tidak harus menguras banyak stamina jika harus bermain "ngoyo" bukannya malah membuang buang bola dengan asal tendang, iya memang hal seperti itu memang clearance , tapi ya gak terus-terusan juga. Gaya bermain inilah yang mempengaruhi stamina, dan stamina lah yang mempengaruhi hasil akhir. Beberapa gol Arsenal dilesatkan pada menit-menit saat stamina Indonesia mulai terkuras, iya , terkuras karena gaya permainan mereka sendiri.
Next time Liverpool dan Chelsea akan berkunjung ke Indonesia. Gaya permainan mereka jelas berbeda dengan yang diterapkan Arsenal. Jika saja Indonesia mau merubah gaya bermainnya...
Bumi Indonesia sumringah, bagaimana tidak. Pada tournya ke Asia Arsenal membawa punggawa-punggawa utamanya untuk berlaga di Stadion Utama GBK. Indonesia tak mau kalah, untuk meladeni lawatan meriam london ini Indonesia menyiapkan squad utama yang dinamakan Indonesia dream team.
Hari yang ditunggupun datang, SU Gelora Bung Karno penuh sesak oleh gooners yang memadati setiap sektor dari stadion kebanggaan Indonesia ini. Sesaat malam itu terasa Emirates Stadium pindah ke Jakarta dimana disetiap sisi lengkap dengan atribut Gooners.
Pertandingan pun dimulai dimana penonton sangat antusias menunggu tim kesayangannya tampil. Entah mana kesebelasan yang mereka sayang, Indonesia atau Arsenal?
Sembilan puluh menitpun berlalu, Arsenal benar-benar mendikte Indonesia Dream Team. Ball possesion dikuasai Arsenal. Tim meriam london ini juga bermain sangat lepas tanpa beban , menguasai seluruh lapangan, dilain pihak Indonesia Dream Team tertunduk lesu, terlihat asa mulai memudar dari tatapan mata pemain Indonesia. Bagaimana tidak? Kurnia Meiga harus memungut TUJUH kali bola dari gawangnya selama 90 menit itu. Sedangkan gawang Arsenal clean sheet masih perawan.
Tujuh kali kick off untuk Indonesia karena kebobolan, seakan semua malam itu para pemain Indonesia Dream Team lemas tak berdaya disetiap sendinya. Malam itu seharusnya Indonesia mengambil pelajaran, sesungguhnya malam itu Arsenal memberikan "contekan" untuk kita.
Selama 90 menit Indonesia bermain sangat monoton, setiap kali dapat bola umpan-umpan tidak akurat, terlebih sering mengangkat bola yang tidak jelas. Jika dipelajari malam itu Arsenal benar-benar mengajari kita. Ibarat guru yang mendikte muridnya. Dari segi postur pemain Arsenal memang tidak terlalu se "Bongsor" pemain Inggris pada umumnya. Namun bagaimana mereka bisa survive di Liga Premier ?
Malam itu juga mereka juga membawa jawabannya. Gaya bermain adalah kunci utama. Mereka bermain passing-passing bola bawah yang sangat rapi. Bahkan untuk mengangkat bola pun bisa dihitung dengan jari. Pergerakan tiap pemain untuk membantu rekannya juga sangat vital. Disamping mereka memang memiliki pemain berskill mumpuni seperti Podolski didepan.
Sedangkan dilain sisi Indonesia, mendapat bola pun sangat jarang karena dikte yang dipraktekan Arsenal berjalan lancar. Sekalinya mendapat bola , saat melakukan passing terpotong dengan mudah, atau justru mengangkat bola yang mana postur pemain Indonesia yang masih terselisih dengan postur pemain belakang Arsenal. Komunikasi antar pemain juga tidak berjalan semestinya. Dan kadang-kadang justru mempraktekkan kick and rush ala Premier League yang jelas menguras stamina. Padahal kita tau sendiri bagaimana stamina pemain kita pada menit-menit akhir. Jangankan menit akhir, menit 60 keatas saja sudah habis-habisan.
Seharusnya kita mempelajari apa yang diajarkan Arsenal. Mereka bermain bola rendah, menguasai possesion, bermain tenang dan tidak terburu-buru. Jika ditelaah lagi, gaya bermain seperti ini sangat cocok untuk Indonesia, dimana tidak mengharuskan memiliki postur yang tinggi dan tidak harus menguras banyak stamina jika harus bermain "ngoyo" bukannya malah membuang buang bola dengan asal tendang, iya memang hal seperti itu memang clearance , tapi ya gak terus-terusan juga. Gaya bermain inilah yang mempengaruhi stamina, dan stamina lah yang mempengaruhi hasil akhir. Beberapa gol Arsenal dilesatkan pada menit-menit saat stamina Indonesia mulai terkuras, iya , terkuras karena gaya permainan mereka sendiri.
Next time Liverpool dan Chelsea akan berkunjung ke Indonesia. Gaya permainan mereka jelas berbeda dengan yang diterapkan Arsenal. Jika saja Indonesia mau merubah gaya bermainnya...
Diposting oleh
Nurrahmat Pradeska

0 komentar:
Posting Komentar